Postingan

Agama dan Film Horor di Indonesia

Gambar
    Pekan lalu, Saya nonton Film Danur (Udah ga usah tau nontonnya dengan siapa), Ada adegan yang membuat saya terbelalak, dimana ketika tokoh agama sudah tidak lagi mempan berhadapan dengan setan, malah kadang setan yang menang, adegan itu samasekali tidak menunjukan perikesetanan. Di film “Pengabdi Setan”, ada satu adegan yang begitu membikin saya sangat miris dan berdesir, yaitu adegan ketika setannya menunggu sosok Rini yang sedang salat dan kemudian menampakkan diri tepat di depan Rini saat ia masih memakai mukena. Selain itu, ustaz di film tersebut tidak tampil sebagai sosok yang superior. Ia mati dibunuh sama setannya. Ini tentu saja sangat mengerikan. Padahal selama ini, hampir di semua film-film horor kita, sosok ustaz (atau pak kiai) selalu hadir sebagai pengusir setan. Pokoknya kalau pak ustaz atau pak kiai sudah baca Ayat Kursi, beres urusan. Logikanya, kalau pak ustaznya saja mati dibunuh setan, apalagi yang bisa diharapkan dari orang yang tidak punya k...

Relationship Ala Pramuka

Gambar
Saya punya semacam love-hate relationships dengan Pramuka. Sejak kecil, saya sudah sangat menyukai Pramuka. Maklum saja, sejak kecil, saya sudah sering teracuni dengan sindrom petualangan: menjelajah, berburu harta karun, menaklukkan tantangan, tidur di alam liar, dan sebangsanya.  Dan Pramuka, adalah entitas yang, setidaknya bagi saya yang masih kecil, sangat masuk akal untuk memenuhi hasrat petualangan. Ketika SD, walau tak sesuai-sesuai amat dengan bayangan saya akan konsep petualangan, namun setidaknya, Pramuka toh berhasil membuat saya bahagia. Pramuka membuat saya akhirnya bisa merasakan berkemah, ikut pesta siaga, dan yang paling penting, bisa membuat saya petantang-petenteng dengan seragam dilengkapi tali dan belati (yang tentu saja tidak tajam, sebab keberadaannya memang lebih bersifat hiasan pelengkap semata alih-alih sebagai alat pemotong).  Bagi saya itu memang sangat keren dan sangat militeristik. Oke, saya paham bahwa militerisme jaman sekarang sangat tidak...

Si Tukang Bacot

Gambar
Komentator Tarkam Yak, ganjil rasanya jika tayangan sepakbola tanpa suara komentator. Menurut saya, komentator dalam pertunjukan sepakbola adalah rendang dalam nasi padang, atau tempe busuk dalam sambal tumpeng. Penting. Tak tergantikan. Bahkan tak cuma di televisi. Di pertandingan tarkam, setidaknya, kendati penontonnya hadir langsung di seputar lapangan, tetap saja kehadiran komentator diperlukan. Di daerah saya, biasanya ia duduk di menara kecil bertiang, berdinding, dan berlantai bambu. Sementara atapnya berbahan terpal atau seng. Bersenjatakan sebatang mikrofon, seperangkat amplifier, serta dua-tiga TOA yang diusung dari balai desa atau tempat penyewaan alat-alat pesta–dan barangkali sebungkus kretek serta satu-dua gelas kopi–dengan nafas yang sesekali megap-megap lantaran mulut harus terus mengejar aliran bola, si tukang bacot ini tampil.  Bukan main, pertandingan yang sesungguhnya berjalan biasa saja jadi sesemarak final Piala Dunia. Kalau beruntung, Anda bisa mendengarkan ...

Senyum Karir, Senyum Ketulusan

Gambar
  Diperankan oleh Model Mungkin, untuk sebagian orang tersenyum itu hanya diberikan kepada orang yang sangat berarti dalam hidupnya.  Tentu saja itu tidak sepenuhnya keliru. Hanya saja perlu disadari bahwa senyuman dalam rangka melayani publik juga perlu dilakukan. Sering saya menemukan pelayan toko yang cemberut pada saat saya mau bayar. Mau bayar lho, bukan ngutang. Ada customer service yang menjawab sambil liat monitor, ga sedikitpun ngelirik ke muka saya. Mungkin dia tahu akan bahaya jika menatap wajah ini (Terpesona). Hahahaha Ada petugas pendaftaran di puskesmas yang jutek setengah mati. Ada staf TU universitas yang wajahnya garang setiap hari.  Ada penjual sayur di pasar yang lupa arti keramahan. Masih banyak lagi yang lainnya dan itulah fenomena yang sering kita temui dalam pelayanan di negara kita. Padahal seulas senyum saja kau berikan, bisa menjadi pelepas penat setelah berjam-jam mengantri nunggu giliran. Ini mah sudah antri, pelayanannya jutek lagi,...

Rumitnya Menghadapi Humor Group Whatsapp Bapak-bapak

Gambar
  Humor itu konon punya tingkatan sendiri. Humor paling tinggi adalah humor falsafah. Di bawahnya ada humor gelap alias dark jokes. Di bawahnya lagi ada humor intelektual. Di bawahnya lagi ada humor satir. Di bawahnya ada humor standar. Di bawahnya lagi ada humor receh. Dan yang paling bawah adalah humor grup wasap bapak-bapak kampung. Jenis humor yang disebut terakhir merupakan humor yang bagi para generasi milenial yang sudah ((( melek internet ))) dianggap sebagai humor yang so yesterday. Jayus. Ia tak ubahnya seperti humor “Bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi”, “Lari dari kenyataan” atau humor “Korban perasaan” menjelang Iduladha. Sebagai salah satu orang yang termasuk melek internet, saya tentu saja ikut merasakan betapa humor grup wasap bapak-bapak ini begitu menggangu. Lebih dari itu, ia sangat destruktif. Itulah kenapa saya sebisa mungkin selalu berusaha untuk menghindarinya. Celakanya, hampir di banyak grup wasap, humor jenis ini selalu bertebaran. Maklum, ia m...

Dari Cita-cita Tentara, Insinyur, Hingga Ahli Sejarah

Gambar
  Dulu sewaktu kecil, saya pernah bercita-cita menjadi seorang tentara. Maklum saja, Rumah tempat tinggal saya memang sebelahan persis dengan anggota Babinsa. Saya juga pernah lihat komplek perumahan dan markas tentara. Hal tersebut kemudian meniupkan semacam “angin tentara” dalam hidup saya.   Sebagai seorang lelaki yang tinggal di lingkungan yang lumayan tentara, saya melihat semacam fakta menyebalkan, di mana sejelek apa pun tampang tentara (apalagi yang perwira lulusan akademi militer), pacar atau calon istrinya hampir dipastikan cantik.   Ada juga fakta unik di kampung saya, kalau tentara mendapatkan istri Kebanyakan kalau ga Bidan ya Perawat.   Saat upacara kelulusan perwira, misalnya, saya banyak melihat para perwira yang berpose dengan pacar mereka yang memang rata-rata sintal dan berwajah menyenangkan.   Kelak, cita-cita sebagai tentara ini pupus karena saya sadar diri dengan postur tubuh saya yang lemah, dan ringkih. Jangankan jadi tent...

Jakarta, Mushola, dan Dina Lorenza

Gambar
Grand Indonesia Selayaknya banyak orang, saya menyaksikan wajah Jakarta di masa kecil melalui tampilan di layar-layar televisi. Jakarta di mata saya merupakan kota yang dihuni oleh artis-artis top dan beken. Dari Rano Karno sampai Mathias Muchus, dari Anwar Fuady sampai Pong Harjatmo, dari Dina Lorenza sampai Paramita Rusady. Saya hampir selalu berpikir, Jakarta pastilah kota yang menyenangkan, sebab kalau tidak, mana mungkin orang-orang seperti Dina Lorenza itu kelihatan cantik melulu. Dari jaman jadi model video klip lagu Angin Malam-nya Sahara, trus jadi saingannya Peggi di sinetron Gerhana, sampai jadi istrinya tulang Togu di sinetron Tukang Bubur Naik Haji, kok ya nggak ada jelek-jeleknya. Perlahan, saya mulai naksir pada kota itu. Dan rasanya tak berlebihan jika kemudian Jakarta menjadi kota yang, saya merasa, kelak harus pernah merasakan hidup di sana, atau setidaknya, pernah mengunjunginya. Harapan itu tak tercapai saat saya SMP, sebab ketika banyak SMP di kota saya menja...