Aku Benci
![]() |
| Wahid Hasyim, Jakarta Pusat |
Dengan penuh kebencian
Aku benci jatuh cinta
Aku benci merasa senang bertemu
lagi dengan kamu,
tersenyum malu-malu, dan
menebak-nebak selalu menebak-nebak
Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa.
Karena, kata orang, cara mudah membuat
orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat WA kamu nongol di notifikasiku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu
lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata.
Aku benci ketika jatuh cinta,
semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi
penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu.
Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya? Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu.
Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri?
Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya
gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah
mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu
sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke
sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah.
Aku benci untuk berpikir aku bisa
begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan
kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handphone yang sedang aku pegang.
Oh, aku benci kenapa ketika
kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin
berlari jauh.
Aku benci aku harus sadar atas
semua kecanggungan itu, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku
bersuara dan mengingatkan, Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada
akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common, harus
dimentahkan oleh hati yang berkata, Jangan hiraukan logikamu.
Aku benci harus mencari-cari
kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate
aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja
sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati
kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama
kepada kamu.
Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta
kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa
kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelanaku
takut sendirian.***

Komentar
Posting Komentar