Kalau Ada Yang Curhat, Tugas Kita Cuma Pendengar Setia. Jangan Bandingin Masalah!
![]() |
| Curhat tuh buat nyari solusi, bukan pertandingan besar-besaran masalah |
Curhat, atau istilah koplonya:
sambat, berfungsi mengurangi beban masalah si pelaku curhat. Siapa sih manusia
yang tidak memiliki masalah? Kalau ada yang mengaku tidak memiliki masalah,
bisa jadi dia adalah sumber masalah. Bisa jadi lho.
Orang kalau udah curhat, jelas
butuh perhatian. Minimal biar ada yang bisa menyalurkan energi positif ke
dirinya agar bisa bangkit dan semangat lagi menjalani kehidupan yang gini-gini
aja.
Nah, acara yang diharapkan bisa mengurangi masalah ini kadang malah bikin masalah baru. Seringnya masalah baru berasal dari lawan bicara yang diajak curhat.
Orang yang dicurhati malah
membandingkan masalahnya di masa lalu dengan masalah si pasien curhat. Kadang
sih ceritanya dibikin drama agak ngenes-ngenes, walau itu cerita asli.
“Yang tabah ya. Kamu belum
seberapa, kok. Aku dulu tuh begini begono… begunu….”
“Kamu belum ada apa-apanya. Aku
tuh kayak gini, gini, dan gini pas waktu itu.”
Respons seperti ini datangnya
bisa dari siapa saja. Orang terdekat sekalipun kayak orang tua atau saudara
kandung juga doyan menasihati dengan embel-embel, “Kami semua dulu begini
yah….”
Jika kamu ada di posisi sebagai
tempat sampah curhatan temanmu, plisss, jangan melakukan hal demikian. Ada
beberapa alasan kalau saat dicurhati, tidak etis dan tidak elegan untuk
mengatakan, “Saya dulu juga begini.”
Alasan #1 Curhat tuh buat nyari
solusi, bukan pertandingan besar-besaran masalah
Kebiasaan membanding-bandingkan
masalah ini nggak tahu deh datangnya dari mana. Entah keceplosan atau sudah
terdoktrin sejak kecil. Pokoknya sering kejadian tuh, acara curhat malah jadi
pertandingan dengan cerita paling ngenes sebagai juaranya.
Yang diharapkan dari pencurhat
kepada pendengarnya kan cuma satu, masalahnya selesai. Bukannya malah dibikin
makin stres karena dibalas cerita masalah di masa lalu juga.
Bisa-bisa, setelah membandingkan
masalahnya dengan masalah kita dulu, dia semakin terpuruk dan tak bisa
mendapatkan solusi. Padahal, dengan dia bercerita ke kita, kita dianggap
sebagai orang yang paling ahli memecahkan masalahnya.
Tak perlulah berkompetisi
gede-gedean masalah. Soalnya nggak ada juga yang mau menyediakan hadiahnya,
“Juara 1 Masalah Paling Besar jatuh kepada. Jeng-jeng-jeng….” Prestasi kok
tentang masalah, hadeeeh.
Alasan #2 Masalah yang dihadapi
beda sama masalahmu dulu
Misal saja masalah putus cinta. Jelaslah, putus cinta itu menyakitkan. Kecuali memang cintanya untuk main-main, ya B-aja kalau diputusin.
Bisa jadi yang curhat ini cintanya begitu dalam
kepada mantan, lebih dalam dari yang kita alami. Jelas dong, dia tidak bisa
mengandalkan cerita masa lalumu untuk dijadikan pegangan move on-nya.
Ingatlah, walau ada masalah yang
temanya sama, itu bukan alasan menyamakan masalahnya dengan masalahmu. Wong
pelakunya dan dinamikanya beda.
Atau suatu ketika saya pernah curhat, kalau saya habis jatuh dari kendaraan dengan beberapa luka di kaki. Nah temen saya ga mau kalah dengan menanggapi, "Mending, itu sih ga seberapa, dulu saya pernah jatuh dari motor, kepala duluan, sampe kepala dan kaki saya misah," ujarnya.
Alasan #3 Dimensi ruang dan waktu
yang berbeda
Ambil contoh yang saya alami sendiri ketika gagal tes CPNS di tahap seleksi kompetensi dasar (SKD). Nilai total saya mencukupi untuk lolos, namun saya gagal di bidang TKP (tes karakteristik pribadi) yang nilainya di bawah passing grade.
Oleh karena syarat
lolos adalah semua kategori harus melebih passing grade, kesempatan jadi PNS
pun melayang.
Namun, Bapak keukeuh saya bisa lolos SKD ke tahap selanjutnya. Hal ini dilihat dari nilai totalnya. Bapak tidak tahu ada aturan main lainnya itu tadi.
“Ya, jelas lolos. Nih ya, dari
dulu tes CPNS lihatnya nilai total. Kan nantinya di rangking lagi lah. Kayak
Bapak nggak pernah ngalami tes kepegawaian kayak gitu, Hep.”
Sudah capek plus kecewa terhadap
hasil saya, ditambah dengan rasa jengkel ke Bapak yang ngeyel. Lengkap sudah.
Waktu itu saya cuma bisa sambat. Tapi ya meh sambat kalih sinten yen sampun
mekaten.
Alasan #4 Kekuatan orang
berbeda-beda.
Kamu bisa saja menyelesaikan masalah dengan hanya pergi ke warung kopi, tapi tak semua orang begitu.
Ada
orang yang lemah kalau sudah soal cinta, ada yang lemah ketika bersentuhan
dengan kegagalan akademis. Alias beda-beda, Bro.
Menceritakan masalahmu dengan alasan agar orang lain terinspirasi dengan kekuatan dan perjuanganmu kadang jatuhnya malah pamer.
Mendingan kamu temani dia untuk menemukan kekuatannya
sendiri tanpa harus menyinggung-nyinggung dirimu. Dunia tidak berputar mengelilingimu,
Brother.
Alasan #5 Bisa menghilangkan
kepercayaan diri pencurhat
Ini yang bahaya. Pencurhat jadi kehilangan motivasi dan gairah menyelesaikan masalahnya sendiri karena menganggap masalah orang aja lebih besar.
“Ah, nilaiku jelek gapapa, wong masih
ada yang lebih jelek dan santai-santai aja.” Misalnya begitu.
Sudahlah, nggak perlu mencuri
panggung dari orang yang curhat hanya karena kamu haus perhatian. Kalau kamu
memang sahabat, luangkan waktu untuk meladeninya buka-bukaan. Tidak harus
ngasih solusi, jadi pendengar yang baik saja sudah sangat bermanfaat.
Ini tantangan untuk memutus
lingkaran setan curhat. Yang seharusnya curhat dan minta solusi, malah
dicurhati balik. Ruwet.***

Komentar
Posting Komentar