Yahh.. Namanya Anak Zaman Sekarang
![]() |
| Panggil Saya Hasan Kasep |
Percakapan suatu ketika.
Saya: “Heh, saha namina murangkalih teh?” (Heh, siapa nama anaknya?)
Teman saya: Audrey,. Audrey
Azzalea Keandra.”
Saya: “Euleuh…” Audrey Azzalea
Keandra.
Tidak ada yang aneh dengan nama
tersebut, tentu saja. Tapi, jika jeli mencermati (atau jika kurang kerjaan
seperti saya), maka Anda akan menyadari bahwa semakin hari semakin banyak orang
tua yang senang memberi nama yang panjang dan sulit dieja serta dihafal pada
anak-anaknya.
Terutama, para mama dan papa muda
atau Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu). Sepeti teman saya lainnya–sebut
saja Malika (tentu saja bukan kedelai hitam yang dibesarkan oleh orang lain)–, dia memberi nama
Sharhabeel Famella Al-Farizi pada anak pertamanya.
Kemudian, dengan mempertimbangkan
luas dan keliling jidat si anak juga kepraktisan namanya ketika dilafalkan,
maka Sharhabeel Famella Al-Farizi pun berakhir dengan nama panggilan… Jenong
atau Domen (khusus jika si ibu sedang kesal).
Ada juga saudara perempuan saya
yang menamai anaknya Arsen Arshavin. Konon, nama tersebut didapat dari hasil
kontemplasi panjang ayah si anak yang ternyata adalah penggemar klub sepak bola
Arsenal dan penyuka nama-nama ala Rusia semacam Andrei Sergeyevich Arshavin.
Dalam hati, saya melakukan
monolog yang diucapkan kencang seperti dalam adegan sinetron Indonesia, “Hih!
Ribet amat. Curiga nama panggilannya mah Acep atau Ujang!”
Beberapa waktu setelahnya, nama
si anak ditambahi embel-embel “Ahmed” di bagian tengahnya. Jadilah Arsen Ahmed
Arshavin. Dan, kenapa pakai Ahmed, tidak Ahmad?
Dia pun menjawab, “Ah, Ahmad mah
atuh da terlalu nyunda. Jadi, mending Ahmed, biar agak-agak India gimana gitu,”
jawabnya.
Kuat dugaan si ibu gemar nonton
sinetron India (kayak elu tuh). Batin saya kembali melakukan monolog. Namun,
kali ini tidak ada kata-kata, hanya tumpukan emoticon “-_-” belaka.
Kira-kira kenapa hal ini bisa
terjadi? Para orang tua seperti terjangkiti wabah absurd, semacam kebanggaan
yang aneh, karena telah memberikan anak-anak mereka nama yang sulit diucapkan.
Ah, jika bukan gara-gara Jokowi,
ini pasti ulah Mukidi! Jika dilihat-lihat, kiblat nama sebagian besar anak masa
kini ini sepertinya terbagi menjadi dua: Timur Tengah (Arab) dan Barat.
Untuk yang pertama, tentu saja
ada kaitannya dengan keyakinan yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, yaitu
Islam. Semakin ke-arab-araban nama seseorang, sepertinya akan semakin terdengar
lebih islami.
Maka kian hari, kian sering kita
dengar nama-nama anak semacam Sabilillah Al-hafizh, Khairiel Azzam Alfarisi,
Raqila Shahbaz, Raffasya Zabdan Shazad, Magadir ala Magadir, dan lain
sebagainya.
Untuk generasi lama yang namanya
sudah terlanjur tidak ke-arab-araban juga tidak mau ketinggalan. Penambahan
nama menjadi alternatifnya–setidaknya nama di akun media sosial.
Semisal, nama Mawar ditambah
menjadi Mawar Al-Bukhori atau Mawar Al-Ayubi, dan sejenisnya.
Untuk kiblat yang kedua, tentu
saja ini adalah simbol modernitas. Semakin kebarat-baratan nama seseorang,
mungkin tingkat kemodernannya akan terasa semakin tinggi.
Maka, munculah nama-nama berbau
Barat atau semi Barat seperti Chloe Bellvania Natalie, Nicole Virika Brielle,
Igor Kasinovic, atau Valeria Lyla Citrahayu. (Lidah Elu keseleo kan
nyebutnya???)
Berbeda dengan orang tua zaman
dulu, mereka lebih selow dan cenderung irit dalam memberi nama. Cukup dengan
Soekarno, Sohearto, Soekirman, atau Soekijan, misalnya, dan selesailah perkara
ihwal pencarian nama anak ini.
Tidak perlu beli buku “1001 Nama
Terbaik untuk Anak” atau melakukan riset mendalam via mbah Google–tentu saja
Google pada waktu itu belum lahir, yang penting dalam nama tersebut tersemat
doa yang baik untuk anaknya. Beres.
Sayang, orang tua zaman dulu ini
kurang peka. Sepertinya tidak terpikirkan oleh mereka bahwa pemberian nama
tunggal bisa menimbulkan nestapa tersendiri bagi anaknya.
Misalnya, jika seorang Soekijan
ingin pergi ke luar negeri, tentu dia akan mendapat kesulitan saat mengisi
berbagai dokumen resmi yang mewajibkan pencantuman nama keluarga.
Bahkan, untuk hal sepele semacam
mengisi data pada kolom “Last Name” kala mendaftar akun Linkedin pun,
kreativitas tingkat tinggi sangat diuji.
Maka, agar kolom tersebut bisa
tetap terisi, seorang bernama Soekijan pada akhirnya terpaksa mengisinya dengan
tanda baca titik saja. (Aslina curhat ini mah, Wa). Kembali ke masalah nama
panjang nan rumit anak masa kini. Lantas, apa masalahnya dengan nama-nama
tersebut?
Ya, sebetulnya tidak ada, sih.
Hanya saja, saya kasihan pada anak-anak itu. Karena kelak, ketika sudah masuk
sekolah dan mulai belajar menulis, pastinya mereka harus belajar ekstra sabar
dan kuat untuk bisa menuliskan namanya yang panjang nan rumit itu.
Dengan nama yang lumayan sulit
dieja ini pula, bisa jadi berimbas pada berbagai dokumen resmi sang anak. Akta
kelahiran, misalnya.
Kesalahan pencatatan nama dapat
rentan terjadi. Kalau sudah begitu, ‘kan para orang tua sendiri yang repot
harus bolak-balik membetulkannya ke dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
setempat.
Belum lagi ada biaya tambahan
untuk “jasa pengetikan dan perbaikan nama.” Kan, sayang itu uangnya. Mending
dibelikan cilok.
Kemudian, jika suatu hari ketika
sudah tumbuh dewasa misalnya anak-anak ini ingin mengadukan internet yang
sering bermasalah pada pusat layanan Te***m (Curhat! Curhat!), mereka juga
mungkin akan mengalami suatu kendala.
Dialog putus asa semacam ini bisa
saja akan sering terjadi:
Customer Service: “Maaf ibu,
dengan ibu siapa saya bicara?”
Sharhabeel Famella Al-Farizi:
“Sharhabeel Famella Al-Farizi, Mas.”
Customer Service: “Maaf ibu, bisa
diulang?”
Sharhabeel Famella Al-Farizi:
Shar… habeel Famelllllaaaa Al-Farizi, Maaaassssss…”
Customer Service: “Maaf mungkin
sedang ada gangguan sinyal. Bisa tolong diulangi, Bu?”
Sharhabeel Famella Al-Farizi:
“Hadeuuuuh! Tulis Jenong aja deh, Mas! Jenooooonnggg!”
Customer Service: (sambil nahan
cekikikan) “Oke, dengan ibu Jenong, ada yang bisa kami bantu?”
Sharhabeel Famella Al-Farizi:
Heh, ngetawain nama saya, ya?!”
Lebih jauh lagi, kecenderungan
penamaan yang sulit ini bisa saja membuat kita kehilangan nama-nama khas
Indonesia, terutama yang biasanya mencirikan suku tertentu.
Misalnya, nama Euis yang identik
dengan orang Sunda mungkin akan segera terancam punah dan masuk ke dalam daftar
nama yang dilindungi.
Atau nama Joko yang identik
dengan orang Jawa, mungkin juga akan segera raib diganti dengan Jack atau
Jacob. Atau nama Tigor yang banyak di Medan berubah jadi Tiger.
Terlepas dari itu semua, kita
tetap patut bersyukur wahai saudara-saudaraku sekalian. Pasalnya, bahasa alay
tidak memengaruhi pemberian nama ini.
Kalaulah hal itu sampai terjadi,
kita bisa bayangkan di linimasa media sosial sana akan bertebaran postingan
mama-papa muda dengan caption seperti: “Telah lahir anak kami yang diberi nama
Dechiiisinonongperihtersakiti. Berat 3 kg, panjang 49 cm.
Semoga menjadi anak yang berguna
bagi nusa bangsa. #babyborn #babyDechiii #lahiran #normal #happiness #babygirl“
Oh, ya, saya sendiri sejujurnya
ingin sekali mengganti nama agar terdengar lebih modern. Saya sempat memimpikan
punya nama Jhon, Michael, atau Samuel.
Sayang, dari akta lahir hingga
ijazah perguruan tinggi yang sampai saat ini belum ditebus, sudah dipatenkan:
Hasanudin (dengan huruf ‘n’ yang hanya satu saja di bagian ‘Hasan-nya’). Namun,
demi dewa, tolong panggil saja saya Hasan Kasep.***

Komentar
Posting Komentar