Menjadi Lelaki Baik-baik
![]() |
| Capcay Special |
“Mas, capcay goreng satu yak.
Pedesnya sedeng aja.” Setelah menepuk pundak masnya yang lebih besar ketimbang
batang nangka itu, Saya duduk di pinggiran meja sambil ngemilin kerupuk.
10 menit kemudian dateng tuh
orang bawa piring.
“Silakan mas bihun gorengnya.”
Ucapnya sebentar lalu kemudian pergi ngegoreng lagi mantattin Saya.
Saya terdiam.
Terdiam dan terbujur. Bujur
sangkar.
Kaku di hadapan bihun panas.
Perasaan tadi mesennya Capcay.
Ini Saya yang salah ngomong apa kuping tukang masaknya kelilipan kulkas? Mau
negur karena makanannya salah, tapi si masnya lagi sibuk banyak yang ngantri.
Mau ikhlas dunia akherat, tapi da lagi kagak pengen bihun.
Apa jangan-jangan tadi emang Saya
yang salah ngomong ya? Perasaan Saya nyebut capcay deh. Mau protes kok ya nggak
enak.
Kasian juga kalau doi dipotong
gaji sama bosnya gara-gara salah ngasi makanan. Padahal di sini statusnya Saya
kan kagak salah ye, tapi kok untuk negur aja rasa-rasanya berat banget kaya
Adele.
Huft, jadi cowok baik-baik emang
ribet ya.
Dan sejenak kemudian gue kunyah
itu bihun sambil terus inget-inget siapa yang salah di antara kita berdua. Kita
sama-sama cowok. Sudah pasti 2-2nya salah.
Karena...
Yang pergi, akan menjadi
kenangan.
Yang buruk, akan perlahan-lahan
menjadi indah.
Yang meninggalkan, akan selalu
dikenang.
Yang ditinggalkan, akan menemukan
yang lebih indah.
Selamat jalan.
Untuk semuanya yang telah
terjadi, dan yang sedang terjadi.
Dari segala bahagia, aku mengucap
syukur.
Dari segala kehilangan, aku
belajar bertafakur.
Di beberapa tanggal, mungkin aku
sempat mengeluh. Namun di akhir cerita, aku mulai mengerti mengapa dulu itu
semua harus terjadi.
Kepada yang dulu yang pernah
dekat dan yang tidak menemani di akhir, kepada yang sempat digenggam namun
meronta pergi, kepada yang berkata tinggal namun ternyata tanggal, kepada
kumpulan luka, derita, dan bahagia yang sempat menjadi makna indahnya sebuah
cerita, terima kasih untuk semuanya.***

Komentar
Posting Komentar